Rabu, 02 April 2014
Tiada UN di Jepang
Tulisan ini dimulai dengan mempertanyakan apakah ada Ujian
Nasional (UN) di Jepang? Jawabannya tidak ada. Kalau pun pernah diadakan tahun
lalu, itu pun sebenarnya sebagai dampak atas gempa bumi dan tsunami tanggal 11
Maret 2011 di Tohoku (Fukushima, Miyagi dan sekitarnya) yang membuat banyak
sekali murid sekolah kehilangan sekolahnya sehingga pendidikan mereka jadi agak
terlantar. Jadi itu sifatnya sementara setelah 42 tahun tak ada UN di Jepang.
Targetnya pun terbatas hanya untuk kelas enam dan kelas 3 SMP. Apakah itu akan
berlanjut? Tidak.
Pendidikan Jepang sama rata di mana pun di Jepang. Pada
dasarnya tidak ada UN karena memang semua sekolah sudah didasari oleh fondasi
kurikulum yang dijaga sangat ketat oleh Kementerian Pendidikan Sains dan
Teknologi Jepang (MEXT).
Pedoman Kurikulum Pendidikan (PKP) yang disebut gakushuu
shido youryou sudah ada dan semua sekolah harus mengacu kepada hal tersebut
yang sudah ditentukan MEXT atau Monbusho.
PKP tersebut wajib diikuti oleh semua sekolah, baik SD, SMP,
SMA, dan sekolah Kejuruan di Jepang, yang memuat isi pendidikan dan detil
pengajaran setiap mata pelajaran. Dapat dikatakan seperti manual book, dan yang
dulu dipakai adalah kurikulum tahun 2002. Mulai tahun 2011 diganti dengan
kurikulum yang baru.
Mengapa diganti? karena kurikulum 2002 yang diberi nama
yutori kyouiku, pendidikan yang sangat memberikan kelegaan sehingga mutu
pendidikan murid-murid jadi menurun. Satu contoh konkret adalah menurunnya
kualitas pendidikan matematika pelajar Jepang yang dulunya sering juara pertama
matematika dunia, kini peringkat menurun drastis.
Pelajaran bahasa Inggris semakin ditekankan agar pelajar
Jepang dapat lebih siap bergaul dengan kalangan internasional. Kebijaksanaan PM
Jepang Shinzo Abe ingin sebanyak mungkin pelajar Jepang pergi belajar atau
internship ke luar negeri sehingga wawasan anak muda Jepang jadi luas nantinya,
wawasan internasional.
Kyoukasho atau buku pelajaran Jepang dibagikan gratis oleh
pemerintah Jepang dengan berbagai perbaikan. Kalau dulu sejarah hitam Jepang
dengan penjajahannya berusaha tidak dimunculkan, kini sejarah Jepang sudah
berisi apa adanya, menuliskan sesuai sejarah di masa lalu.
Pendidikan di Jepang sampai dengan SMP Umumnya mendapat
subsidi uang dari pemerintah sehingga pelajar dapat belajar gratis. Uang untuk
anak kita bukan untuk orangtuanya. Tetapi ditransfer uang ke rekening
orangtuanya, buat uang sekolah, beli makanan, transportasi sekolah dan
sebagainya keperluan si anak.
Ada pula sekolah yang sampai dengan SMA memberikan subsidi
kepada muridnya. Tetapi yang SMA itu tampaknya untuk warga negara Jepang. Hal
subsidi ini khususnya yang SMA masih lebih kepada kebijaksanaan sekolah
masing-masing. Tetapi sampai dengan SMP semua warga negara yang ada di Jepang,
miskin, asal visa sah dan lapor pajak dengan benar di Jepang, anaknya sampai
dengan SMP akan mendapat subsidi.
Ujian masuk sekolah di Jepang memang sangat sulit. Kalau
lulus, umumnya lulus semua, kalau tidak lulus (ryunen) biasanya ada pendidikan
tambahan bagi pelajar tersebut. Pada dasarnya sekolah mau meluluskan semua
murid sampai dengan SMA asal si anak benar-benar belajar dengan baik sesuai
petunjuk sekolah dan pendidikan yang diberikan gurunya. Jadi lulus dapat
dikatakan dengan mudah. Bahkan sampai dengan S3 (tingkat Doktor) pun dapat
lulus dengan mudah asal wajar-wajar saja. Namun masuk sekolah, apalagi masuk
S1, S2 dan S3 sangat sulit sekali di Jepang.
Sehingga ada kegiatan Juken atau semacam bimbel (bimbingan
belajar) di Jepang agar si murid bisa masuk sekolah yang diinginkan dengan
baik. Orangtua murid seringkali berjuang habis-habisan untuk memasukkan anaknya
ke sebuah sekolah (favorit) karena tahu masa depan akan baik. Misalnya masuk ke
Universitas Tokyo (seperti Universitas Indonesia), maka masa depan si anak
biasanya baik. Ini salah satu sekolah impian di Jepang.
Tapi SMA adalah tanggung jawab masing-masing sehingga di
sinilah mulai persaingan dengan kegiatan JUKEN ang harafiahnya mengikuti ujian
masuk, tetapi secara umum merujuk pada kegiatan belajar untuk mempersiapkan
ujian masuk. Dan biasanya murid akan mengikuti pelajaran tambahan di bimbingan
belajar, bimbel (Aku ingat topik ini yang membawaku ke blog Bang Hery Azwan
tahun 2008 lalu).
Ada pula sistem undian atau Chuusen. Murid tertentu bisa
ikut ujian dan lulus lebih awal kalau beruntung terpilih dalam undian. Logika
penulis, mestinya chuusen tersebut dilakukan setelah ujian. Kalau ada yang
tidak lulus, masih dimungkinkan ikut undian sehingga bisa ikut lulus, bisa
masuk sekolah tersebut. Tapi di Jepang justru terbalik. Yang tidak mendapat
undian, yang gagal, tentu tidak bisa ikut ujian dan tak bisa masuk sekolah yang
diinginkan tersebut. Jadi di Jepang masuk sekolah bukan soal uang. Kalau benar
sudah lulus ujian masuk sekolah, sudah diterima, barulah bicara uang masuk
sekolah. Lain kalau di Amerika Serikat, yang penting ada uang, berapa bisa
bayar, walau mahal, pasti bisa masuk sekolah.
Ulangan atau test kecil selalu dilakukan di Jepang untuk
tetap memacu kualitas dan kuantitas belajar sang murid agar kualitas terjaga
baik.
Inilah pendidikan Jepang yang benar-benar menekankan sumber
daya manusia, menekankan pendidikan bagi manusia, terutama sampai dengan SMP
semua orang tak peduli warga Negara diwajibkan sekolah dan uang dari pihak
pemerintah bagi yang miskin. Sangat adil sangat membantu sekali semua yang
berdomisili apalagi warga Negara Jepang sendiri sehingga tingkat pendidikan di
Jepang 90% tinggi dan tidak berbeda jauh. Akibatnya, komunikasi antar manusia
di Jepang berjalan dengan baik karena memiliki tingkat atau level pendidikan
yang tidak berbeda jauh.
Kini ada 10 sekolah Jepang akan datang ke Jakarta hari
Sabtu, 24 Agustus 2013 di Hotel Pullman ex Nikko Hotel Jl Thamrin 59 Jakarta
Pusat mulai pukul 10.00 WIB - hingga pukul 18.00 WIB, semua bisa berkonsultasi
gratis di sana. Datanglah bersama orangtua teman saudara dan kerabat lain.
Manfaatkan kesempatan itu untuk melihat pula budaya Jepang di sana.
wahh.. sepertinya enak juga gak ada UN, haha tapi pusing saat tamat sekolahnya, kalau dianggap keluar dari kandang buaya masuk ke kandang Harimau
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Negara maju memang tidak menerapkan yang namanya UN, kalau Pendidikan di Indonesia mau berkembang maka sebaiknya meniru pendidikan negara negara lain yang sudah terbukti sukses dalam hal pendidikan .. JeKaTe ... 48 ^_^
Posting Komentar